Terjemah Al Buruj

Bismillah Sobaahul Khoir Ikhwatal Iman semua. Pagi ini Admin bagikan kembali terjemahan surat Al Buruj yang dibacakan oleh Syaikh Ali Jaber. Silahkan dengarkan atau unduh DI SINi.

Kemudian melanjutkan artikel manajemen waktu yang kemarin, Admin bagikan juga artikel lanjutannya. Semoga dengan membaca dan mengamalkannya waktu kita bisa lebih bermanfaat.

TIPS MENGOPTIMALKAN WAKTU (BAGIAN 3 DARI 4)

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

إنّ حمد لله

Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabarākahu wa Ta’ala

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kepada para shahabatnya, keluarganya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya hingga di akhir nanti.

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, kita akan melanjutkan bagaimana cara mengoptimalkan waktu.

(3) MANFA’ATKAN WAKTU-WAKTU ISTIMEWA

Waktu kita terbatas tidak? Terbatas.
Pekerjaannya banyak? Banyak. Amalan juga banyak.

Bagaimana caranya supaya kita bisa mensiasati waktu yang terbatas tersebut dan kita bisa meraih pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya?

Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan keistimewaan kepada beberapa waktu.

Ada waktu-waktu yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh waktu-waktu lain. Kalau kita berhasil memanfa’atkan waktu-waktu tersebut, maka kita akan bisa meraup pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya.

▪Contoh:

Malam ini dengan malam Lailatul Qadr, sama tidak ?

Panjenengan (anda) beramal malam ini, sama beramal malam Lailatul Qadr, pahalanya lebih besar mana? Besar malam Lailatul Qadr.

Karena:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan.”

(QS Al Qadr: 3)

Beramal satu malam Lailatul Qadr, pahalanya lebih banyak daripada pahala beramal selama seribu bulan. Ya, 80 tahunan sekian ya, 83 tahunan atau 82 tahunan lewat berapa bulan.

Bayangkan, 1 malam pahalanya seperti beramal 82 tahun lebih. Inikan waktu istimewa.

Makanya, kalau misalnya kita ketemu dengan waktu-waktu yang istimewa itu, jangan biarkan waktu tersebut berlalu bergitu saja. Karena belum tentu kita akan ketemu lagi dengan waktu itu, belum tentu seumur-umur kita ketemu 1 kali.

Makanya, ketika kita sudah masuk 10 hari terakhir dari bulan rāmadhan, kita harus tingkatkan amalam kita, supaya kita bisa memanfaatkan waktu istimewa tersebut.

▪Contoh yang lain:

Puasa Arāfah, apakah puasa Arāfah sama pahalanya kaya puasa Senin Kamis? Tidak.

Bukan berarti puasa Senin Kamis tidak ada keutamaannya. Tapi puasa Arāfah keutamaannya kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

… اَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ اَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ …

“(Puasa Arafah) Saya mohon kepada Allāh, agar piasa it u dapat menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang lampau dan satu tahun yang akan datang.”

(Hadits Riwayat Muslim nomor 1162)

Ini untung tidak? Untung banget ini.

Makanya kalau misalnya sampai pada hari Arāfah, 9 Dzulhijah, usahakan, manfaatkan waktu yang istimewa itu untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala sebanyak-banyaknya.

Jadi, Allāh Subhānahu wa Ta’āla manakala memberikan waktu-waktu tersebut bukan kosong tanpa makna, tapi kita dimotivasi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini loh ada waktu-waktu yang luar biasa, dalam waktu yang sedikit engkau bisa mendapatkan pahala yang luar biasa.

(4) LAKUKAN BERBAGAI AKTIVITAS YANG BERBEDA DALAM WAKTU YANG SAMA

Banyak diantara orang, pikirannya lagi “nekuni ike, ike bae lah, ra sah sing lian-laine” (jika sedang menekuni satu hal, maka satu itu saja, tidak perlu melakukan aktivitas lain).

Padahal sebenernya, ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan walaupun berbeda dalam waktu yang sama, dan itu tujuannya adalah untuk mensiasati waktu kita yang terbatas dan para ulama kita dulu terbiasa seperti itu.

Berikut beberapa contoh:

▪Ada seorang ulama namanya Al Imam Khatib Al Baghdadi, beliau itu kemana saja, jalan kemana saja, mesti bawa buku. Berjalan itu aktivitas atau bukan? Aktivitas.

Kalau njenengan (anda) berjalan sambil ngapain? SMSan ? Facebook-an?

Kalau Imam Al Khatib Al Baghdadi sambil berjalan dia bawa buku, sambil baca, baca buku. Kemudian setelah itu dia jalan, baca buku, terus gitu. Jadi dalam satu waktu dia melakukan sekian aktivitas.

Ya, kalau sekarang kan banyak sekali waktu-waktu kita yang kosong. Ketika kita lagi nunggu antri di rumah sakit, Kita pinginnya dapat nomor yang awal sehingga berangkatnya awal, tapi dokternya tekannya awan (datangnya siang), ngapain coba di situ?

Mendingan bawa buku, bawa majalah, aktivitas.

Sayangnya justru yang menonjol dalam hal seperti itu bukan kaum muslim, saat ini lho, saat ini. Kalau jaman dahulu kaum muslimin sangat menonjol, kalau saat ini justru yang menonjol adalah orang-orang non muslim.

Konon di Jepang, tidak ada ada orang “menomblo tok” (melamun), tidak ada di sana. Kalau misalnya orang lagi nunggu apa selalu ada yang dia lakukan. Entah dia bawa buku, entah dia bawa apa laptop, atau bawa Ipad. Nulis sesuatu yang bermanfa’at.

Kalau kitakan sambil nunggu main games, kalau mereka baca, sesuatu yang bermanfa’at.

▪Ada seorang ulama namanya Abdul Wafa Ibnul Waqil. Dia itu berusaha bagaimana cara makan secepat mungkin, maksudnya tidak makan waktu yang banyak.

Beliau membandingkan antara makan roti kering sama roti yang harus dibasahi. Perbedaannya, kata beliau, itu bisa untuk membaca 50 ayat Al Qurān, lebih cepat yang kering.

Makanya beliau kalau makan itu selalu milih roti yang kering. Karena perbedaan waktu antara makan roti kering dengan roti yang tadi yang enak, yang dicampur apa dulu, itu bisa cukup untuk membaca 50 ayat.

Kalau kita?

Beliau sungguh luar biasa. Sampai bagaimana caranya supaya mengoptimalkan waktu yang beliau miliki.

Bahkan kisah yang terakhir ini akan saya bawakan ini lebih menakjubkan lagi.

▪Seorang ulama namanya Abdul Barakat Majduddin kalau ke kamar mandi, maaf, lagi buang hajat. Itukan kita tidak bisa ngapa-ngapain. Dzikir tidak boleh, baca Qur’an tidak boleh.

Kalau beliau ini, kalau ke kamar mandi, beliau panggil saudaranya, “Tolong bacain buku di luar dengan suara yang keras.” Supaya dia di dalam tidak melakukan apa-apa, tidak aktivitas, tidak berdzikir, tidak baca buku, tapi orang di luar supaya baca buku dengan suara yang keras.

Dulu belum ada radio, kalau sekarang kita ada radio, suruh bacain, supaya apa?

Supaya waktu dia itu tidak terbuang sia-sia.

Dalam satu waktu dia melakukan dua aktivitas yang sama-sama bermanfa’at. Buang hajat bermanfa’at tidak? Oh, bermanfa’at sekali, dapat tambahan ilmu juga bermanfa’at.

Jadi ini menunjukan bahwa berbagai aktivitas yang berbeda itu bisa dilakukan dalam waktu yang sama.

Prakteknya kaya apa ustadz?

==> Contoh, mencari nafkah.

Ketika kita sedang jualan di toko bisakah kita double dengan aktivitaz lainnya yang bermanfaat? Bisa apa ? Baca, ketika sedang tidak ada pembeli.

Coba sekarang perhatikan, perhatikan orang-orang di pasar, para penjual di pasar, berapa dari sekian ratus atau ribu pedagang di pasar, yang ketika waktu kosongnya itu baca Qur’ān? Kalau anda temukan aneh bin ajaib.

Kenapa?

Karena orang berfikirnya ini lagi dagang. Dagang ya dagang, kenapa dicampur-campur dengan baca Qur’ān.

Loh kenapa sih mas? Tidak ada kontradiksi kok. Apakah kontradiktif jualan sambil baca Qur’an?

==> Contoh yang lain.

Jalinan silaturahim, ibadah atau bukan? Ibadah.

Kebanyakan dari kita mengisi silaturahim hanya sekedar dengan obrolan. Tidak apa-apa lepas kangen. Mbok ya sambil silaturahim sambil melakukan aktivitas yang lain.

Ya, contohnya berdakwah, mengajak dia kepada kebaikan. Sehingga kita mendapatkan pahala double-double. Dalam satu waktu kita dapatkan pahala silaturahim sekaligus kita mendapatkan pahala berdakwah kepada jalan Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

BimbinganIslam.com

(Visited 43 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *